Read more: http://blog.sjscheat.com/2012/01/cara-membuat-menu-slide-css3-animated.html#ixzz1ptSA0pIX INGAT JANGAN ASAL COPAS -->

FLAG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Yesung welcome


TWIT BIRD

SUPER JUNIOR - KRY- FLY

kursor kerlipp

Twitter

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto Saya
SUPER JUNIOR KIM JONG WOON 고맙습니다 ^^

Pengikut

Salju

RSS

FIQIH -BAB Mencuri dan Menyamun


Assallamualikum Wr. Wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah atas curahan rahmat dan karunia-Nya, sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga. Amin
Adapun makalah Fiqih ini bertujuan untuk memenuhi tagihan tugas pada semester awal.
Makalah kami ini berisi tentang mencuri dan menyamun daam hokum islam yang akan dibahas pada tiap-tiap halamannya. Materi-materi yang dipaparkan di makalah ini merupakan materi yang telah dibahas
sebelumnya. Sehingga, dengan makalah ini pembaca diharapkan dapat lebih memahami Materi mencuri dan menyamun dalam pandangan islam.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada H. Moch Chotib, S.Ag ,selaku pembimbing Fiqih serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.
Semoga amal kebaikan diterima Allah SWT dan mendapatkan imbalan dari Nya. Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penyusun mengharap kritik dan saran untuk perbaikan dimasa mendatang.


Babat, 05 september 2011

                                                                                                   Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Pada zaman akhir saat saat ini banyak manusia yang telah melupakan kewajiban dan larangan dalam agama Islam khusunya. Dikota besar ataupun di pedesaan sering kali terjadi tindakan kriminalitas,umunya mereka mencuri ataupun menyamun(merampok). Demi memenuhi kebutuhan hidup sehingga mereka berani untuk melakukan tindakan haram tersebut.
Mencuri ataupun merampok dalam islam dapat diartikan sebagai tindakan mengambil hak harta orang lain tanpa sepengetahuan atau tidak dari pemiliknya. Dalam islam mencuri dan menyamun adalah perbuatan yang dilarang. Kebanyakan orang hanya mengerti dasar hukum mencuri dan menyamun secara mendasar. Dan tanpa ada pemikiran untuk dapat memahami lebih mendalam mengenai hukum tindakan tersebut dalam kajian islam yang sesunguhnya.
Untuk dapat memahami pengertian mencuri dan menyamun yang dalam artian sesunguhnya. Maka dalam makalah ini akan dijelaskan tentang tindakan mencuri dan menyamun dalam kajian islam. Hal tersebut berupa pengertian,Dasar hokum,hukuman,syarat dan hikmah nya.



BAB II

A.    Mencuri
1.      Pengertian

Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Di dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang.

“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295)

Suatu perkara dapat ditetapkan sebagai pencurian apabila memenuhi syarat sebagai berikut :
1.      Orang yang mencuri adalah mukalaf, yaitu sudah baligh dan berakal
2.      Pencurian itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi
3.      Orang yang mencuri sama sekali tidak mempunyai andil memiliki terhadap barang yang dicuri
4.      Barang yang dicuri adalah benar-benar milik orang lain
5.      Barang yang dicuri mencapai jumlah nisab
6.      Barang yang dicuri berada di tempat penyimpanan atau di tempat yang layak.

2.      Dasar hukum mencuri
Mencuri hukumnya haram secara qhot’iy, karena mengambil harta orang lain secara bathil
Firman Allah


“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan bathil” (Q.S. Al-Baqarah [2] ; 188)



“... dan tidaklah seorang pencuri ketika akan mencuri dia dalam keadaan beriman…” (H.R. Muttafaqun ‘alaih)

3.      Had perbuatan mencuri

http://lh6.ggpht.com/_aUiDyrtlGJU/ShS5oHd5RbI/AAAAAAAAABQ/hU82GaqfRTI/Dasar%201.JPG






2
Tahapan had pencurian:
1)      Apabila pencurian dilakukan pertama kalinya maka dipotong tangan kananya.
2)      Apabila pencurian dilakukan kedua kalinya maka dipotong kaki kirinya
3)      Apabila pencurian dilakukan ketiga kalinya maka dipotong tangan kirinya
4)      Apabila pencurian dilakukan keempat kalinya maka dipotong kaki kananya
5)      Apabila pencurian dilakukan kelima kalinya maka hukumanya adalah ta’zir dan dipenjara sampai ia bertaubat, menurut ijmak ulama dibunuh.

Bagian tubuh yang dipotong adalah pergelangan tangan atau kaki. Hukuman had bagi pencuri laki-laki sama dengan pencuri perempuan. Had pencuri hamba sahaya dan budak wanita sama seperti had orang merdeka. Had tersebut diterapkan ketika mencuri harta kaum muslim atau non muslim.
Kalau sekelompok orang mencuri bersama seperempat dinar, maka tangan mereka tidak dipotong demikian menurut mufakat ulama. Dan apabila pencuri meninggal akibat dipotong tanganya maka tidak ada sangsi apa-apa atas memotongnya, demikian menurut ijma ulama.
Sebagian ulama lain diantaranya Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa had potong tangan dan kaki hanya dikenakan sampai dengan pencurian yang dilakukan kedua kali, yaitu potong tangan kanan pada kali pertama dan potong kaki kirinya pada kali yang kedua. Jika ia melakukan ketiga dan seterusnya, hukumanya adalah dita’zir dan dihukum sampai jera.
Disamping dihukum sebagaimana diterangkan diatas pencuri tersebut berkewajiban mengembalikan barang yang dicurinya. Jika barang telah tiada maka harus diganti dengan barang serupa atau seharga dengan barang tersebut.

Hukum-pencurian-(Hadsariqah)-dalam-Islam
Hukum mencuri di dalam Islam adalah termasuk di dalam hukum yang ma’lum minaddin bi dharurah. Hukuman bagi pencuri adalah dipotong tangannya, iaitu sampai batas pergelangan tangan kanan. Dalilnya adalah firman Allah, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai seksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [TMQ Al-Maidah (5):38] ‘Curi’ yang ditakrifkan dalam ayat di atas secara perundangan Islam adalah pengambilan harta secara sembunyi dari pemiliknya atau wakilnya, dengan syarat mencukupi nisab potong tangan, dan mengeluarkan dari tempat penjagaan atau seumpamanya, dan tidak ada unsur syubahat terhadap harta tersebut [Nizham Al-‘Uqubat, Abd Rahman Maaliki, hal. 60]. Hukum potong tangan akan dijatuhkan apabila memenuhi 7 syarat utama :
Pertama: Menepati definisi mencuri: makna mencuri di sini adalah mengambil harta secara sembunyi-sembunyi dan sorok-sorok. Tidak dikatakan mencuri jika merompak, menggelap wang (pecah amanah), merampas dan meragut. Oleh sebab itu peguam yang menggelapkan wang kliennya tidak termasuk dalam jenayah pencurian yang kena potong tangan. Walaupun mereka ini tidak dikenakan hukuman potong tangan, namun mereka akan dikenakan hukuman takzir, yang mungkin lebih berat dari potong tangan. Kesalahan ini tidak dikategorikan sebagai curi kerana ada hadis dari Jabir bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda “Tidak dipotong tangan orang yang pecah amanah, orang yang menipu dan perampas” [HR Abu Daud]
Kedua: Barang yang dicuri mencukupi nisab: Cukup nisab adalah syarat minima nilai harta yang dicuri. Jumhur ulama di antaranya Al-Malikiyah, Asy-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahawa nisab pencurian itu adalah seperempat dinar atau 3 dirham. Satu dinar adalah setara dengan 4.25 gram emas (24 karat). Dalilnya adalah sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Aisyah ra. "Tangan pencuri dipotong untuk seperempat dinar atau lebih.” [HR Bukhari & Muslim]. Dari hadis ini dapat dibuat kesimpulan bahawa perkiraan nisabnya adalah ¼ x 4.25g = 1.0625g. Mengikut kiraan, harga semasa emas ialah RM86/g. Jadi, 1.0625g x RM86 = RM91.38. Oleh itu, nisab kecurian sekarang adalah RM91.38. Sekiranya seorang itu mencuri barangan berharga RM90.50 maka tangannya tidak dipotong kerana belum cukup nisab lagi, tetapi dia tetap akan dikenakan hukuman takzir.



3
Ketiga: Harta yang dicuri adalah harta yang layak dimiliki: Layak (ihtiram) adalah di sisi hukum syarak. Jika seseorang Muslim menyimpan khamar atau khinzir di rumahnya kemudian dicuri, hal ini tidak akan menyebabkan pencuri dihukum potong tangan kerana harta tersebut bukanlah satu pemilikan yang layak untuk orang Islam.
Sebaliknya jika dia mencuri harta tersebut dari orang kafir, maka pencuri akan dikenakan-potong-tangan.
Keempat: Harta dicuri dari tempat penjagaan: Maksudnya barang yang dicuri itu mesti berada di dalam penjagaan, penyimpanan atau pengawasan pemiliknya. Bentuk penjagaan ini terdiri dari dua kategori, iaitu yang pertama, ia dibuat khas untuk menyimpan seperti peti besi untuk perhiasan dan wang, kandang untuk binatang, jelapang untuk padi dan sebagainya yang dimaklumi oleh masyarakat. Yang kedua, memang bukan media penyimpanan khusus namun termasuk cara umum di mana seseorang berada di situ dan orang lain tidak boleh menguasainya kecuali atas izinnya. Contohnya adalah seseorang yang duduk/tidur di masjid dan meletakkan beg di sisinya. Ini termasuk dalam penjagaan. Konsep ‘pengawasan’ terhadap harta ini adalah berbeza antara satu harta dengan harta lain. Ulama fiqih bersepakat mengatakan jika satu pintu stor atau kandang terbuka, atau bahagian dindingnya rosak maka ini akan menghilangkan sifat penjagaan, maka pencuri itu tidak dipotong tangan, namun mereka akan dikenakan hukuman lain. Dari Amru bin Syuaib dari bapanya dan dari datuknya berkata “Aku mendengar seorang lelaki dari Bani Muzainah bertanya kepada Rasulullah tentang sangkar yang ada lubang: Maka Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Pencuri itu kena bayar 2 kali ganda harganya dan dipukul sebagai teladan balasan seksa, namun jika dia mencuri unta atau kambing dalam pengawasan untuk minum air maka tangannya akan dipotong jika harganya menyamai 8 mijan” [HR Abu Daud] Begitu juga dalam hadis lain yang menceritakan perihal orang yang mencuri buah semasa berada ditangkai, maka mereka ditakzir dengan nilai dua kali ganda, tapi jika mereka mencuri dari stor maka mereka akan dipotong tangan jika cukup nisabnya.
Kelima: Bukan harta syubahat: Dalam harta yang dicuri tidak ada bahagian hak pencuri atau yang membolehkan pencuri itu memakannya. Ini bermakna tidak dikenakan hukuman potong tangan sekiranya siayah mencuri harta anaknya atau sebaliknya kerana Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda “Kamu dan harta kamu adalah milik bapa kamu” Rasululah juga bersabda “Sebaik-baik orang itu adalah orang yang memakan hasil usahanya sendiri, dan anaknya juga memakan hasil usahanya.” Seorang yang mencuri harta dari Baitul Mal juga tidak dipotong tangan kerana Baitul Mal adalah harta bersama di mana di dalamnya terdapat hak si pencuri sebagai rakyat meskipun kecil bahagiannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah bila seseorang ditangkap kerana mencuri khumus (1/5 dari rampasan perang yang dikhaskan kepada Rasulullah). Ibn Abbas menceritakan bahawa kes ini dibawa kepada Rasulullah, tetapi baginda tidak memotong tangannya, sebaliknya bersabda “Harta Allah dicuri di kalangan sendiri” [HR Ibn Majah]. Semasa pemerintahan Umar dan Ali juga terjadi kecurian di Baitul Mal namun mereka tidak memotong tangan, kerana kaum Muslimin bersyarikat (berkongsi) di atas harta itu. Begitu juga kalau salah seorang suami-isteri mencuri harta pasangannya, maka hukum potong tangan tidak dijalankan kerana mereka saling berkongsi di dalam pemilikan harta.
Keenam: Pencuri itu akil-baligh dan terikat hukuman dalam Islam. Taklif ini terkena kepada semua orang termasuk kafir zimmi. Ini kerana hadis Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebut dengan jelas bahawa, “Diangkat pena (dosa) dari 3 pihak, orang yang tidur sehingga dia bangun, kanak-kanak sehingga dia baligh, dan orang yang gila sehingga dia berakal”[HR Muslim]. Ini bermakna taklif hukum terkena kepada orang yang berakal dan baligh. Pencuri kanak-kanak atau orang gila tidak akan dipotong tangan. Adapun kafir zimmi maka tangan mereka dipotong sebagaimana Muslim juga.
Ketujuh: Sabit kesalahan mencuri dengan pengakuan atau disaksikan oleh saksi yang adil: Pengakuan mencuri dalam sidang penghakiman akan menyebabkan seseorang itu boleh disabit dengan pencurian. Dari Abu Umaiyah Makhzumi menceritakan bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memerintahkan potong tangan seorang yang datang mengaku mencuri walaupun benda yang dicurinya tidak ada ditangannya. [HR Ahmad]. Manakala jika kes dibawa dan bayyinah (pembuktian) diperlukan, nisab saksi mata untuk kes pencurian adalah 2 orang lelaki atau 1 lelaki dan 2 wanita berasaskan nas umum-saksi-dalam-surah-2:286.

4
Inilah tujuh syarat hukum potong tangan di dalam Islam. Walaupun hukum potong tangan dijalankan, terdapat syarat lain bahawa si pencuri perlu mengembalikan semula harta yang dicurinya kepada pemiliknya Ini berasaskan hadis Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam “Apabila dicuri dari seseorang bekalannya, maka harta itu ditemui pada orang lain (pembeli), maka dia berhak mengambilnya, manakala penjual akan mengembalikan wang harganya kepada pembeli itu”
Ini menunjukkan wajib harta yang dicuri dikembalikan kepada tuannya. Jika barangan itu binasa atau hilang maka kewajipan
keatasnya membayar harga yang setimpal. Dan apa-apa kerugian yang diakibatkan oleh kecurian itu akan dikira dan pencuri wajib menggantikannya.



“menjadi tanggungan orang yang mengambil harta (untuk mengembalikan) barang yang diambil sampai ia menunaikanya” (H.R Ahmad).

4.      Nisab barang yang dicuri

Nisab adalah batas minimal nilai suatu harta. Nishab harta yang dicuri adalah nilai minimal yang dimiliki oleh harta itu harta yang dicuri untuk bisa menyeret malingnya ke pengadilan dan dijatuhi hokum potong tangan berbeda-beda di kalangan ulama.
Menurut pendapat Imam syafi’i. nisab barang curian yang menyebabkan had seharga ¼ dinar,atau sekitar 3,34 gram. Menurut Imam maliki dan Imam Hambali tiga dirham, sekitar 3,34/ 3,36 gram, menurut Imam Hanafi sepuluh dirham.

5.      Pencuri dimaafkan

Jika pemilik barang yang dicurimemberi maaf kepada pencuri, maka had menjadi gugur karena had masih milik pemilik barang, dengan catatan pemberian maaf tersebut sebelum masalahnya dibawa kepengadilan, karena jika masalahnya sudah diputuskan dipengadilan had tidak bias gugur karena had milik Allah, bukan milik pemilik barang yang dicuri.


6.    Hikmah hukuman(uqubah) bagi pencuri
1)      Membuat orang yang mau berbuat pencurian mempertimbangkan seribu kali pertimbangan, sebab hukumannya sangat menyakitkaan memalukan dan memberatkan kehidupannya di masa depan (yaitu hokum potong tangan ataupun kaki)
2)      Orang jera untuk melakukan pencurian kembali. Khususnya bagi yang sudah terlanjur pernah mencuri lalu dikenahi hukuman had, ia tidak berani lagi mengulanginya.
3)      Terpeliharanya harta masyarakat dari gangguan orang lain.
4)      Terciptanya kehidupan kondusif, aman, tentram, bahagia.
5)      Mengurangi atau bahkan menghapus beban siksaan di akhirat bagi pelaku pencurian. Sebab jika seseorang melakukan pencurian tidak dikenahi hukuman had (hukum allah) di dunia, maka nanti di akhirat siksaanya jauh kan lebih berat di bandingkan siksaan had yang di lakukan di dunia.








5
B.     MENYAMUN / MERAMPOK/ MEMBAJAK
1.      Pengertian
           Dalam istilah syara’ merampok di sebut qhat’utthariq yang artinya “memotong jalan” atau “menjegal” atau di sebut hirabah yang artinya “peperangan”. Adapun secara istilah adalah mengambil harta orang lain dengan cara paksa, kekerasan, ancaman senjata, penganiayaan bahkan kadang kala dengan membunuh pemilik barang.
           Penyamun/ perampok/ pembajak adalah orang yang mengambil harta orang muslim atau non muslim (mu’ahad : non muslim yang terkait perjanjian dengan kaum muslimin) tanpa alasan yang benar, dengan cara paksa, atau menggagahi pemiliknya di suatu padang pasir atau tempat yang lain.
            Ketiga istilah yaitu menyamun, merampok, membajak esesinnya mempunyai arti sama yakni mengambil barang orang lain secara terang-terangan ( si pemilik barang tahu), membawa senjata (kayu, batu, pisau, senjata api yang dapat di gunkan berkelahi). Bedanya hanya pada tempat dan suasana. Kalau nyamun di lakukan di tempat yang sunyi, tidak ada banyak orang. Kalau merampok di lakukan di tempat yang ramai. Misalnya di pasar, di rumah, mool, dan lain lain. Kalau membajak sasarannya adalah kendaraan besar. Misalnya di kapal terbang, di kapal laut dan sebagainya.

2.      Hukum Nyamun, Merampok dan Membajak
                        Hokum nyamun/ merampok/ membajk adalah dosa besar. Allah menganggap perbuatan tersebut termasuk memerangi Allah dan rosulNya. Menyamun, merampok dan membajak merupakan bentuk kriminal yang biasanya memiliki jaringan terorganisir (mavia) dengan rapi, kompak dan kuat, daerah oprasinya cukup luas, korbannya cukup banyak, baik korban materi ataupun jiwa. Oleh karena itu cukup rasional jika sanksi hukum yang di terima cukup barat, baik sanksi hukum duniawi ataupun akhirat.



            “Dan akhirat mereka (para penyamun) beroleh siksaan yang besar” (Al-Maidah:33)

            Hukuman perampok/ penyamun/ pembajak antara lain sebagai berikut:
1.    Jika si pelaku merampas dan membunuh si korabn, hadnya di hukum mati.
2.    Jika hanya merampas harta korban, hadnya di potong tangan dan kaki secara silang. Tangan kanan dengan kaki kiri, atau tangan kiri dengan kaki kanan, jika kedua tangan dan kedua kakinya utuh tidak cacat. Apabila kakinya buntung, maka yang di potong tangan kanannya saja, tidak yang lain. Tidak boleh memotong kedua tangan dan kedua kaki sekaligus.
3.    Jika hanya membunuh korban tanpa mengambil hartanya, hadnya di hukum mati seperti hukum qishas.
4.    Jika belum sempat merampas harta atau membunuh korban, hadnya dihukum penjara atau di buang di suatu tempat asing (diasingkan), sampi ia insaf.
            Hukuman wanita dalam harabah sama dengan hukuman orang laki-laki. Hadnya hamba sahaya dan budak wanita dalam hirabah sama saja dengan had orang merdeka. Dan barang siapa menghalalkan harabah menurut ijtima’ ulama’ di hukumi kafir, dan tidak ada khilaf dalm penetapan hukum ini.

3.      Penyamun, perampok dan pembajak yang bertaubat
Telah menjadi ijma’ ulama atas gugurnya had harabah jika perampok penyamun/penyamun/pembajak tersebut bertaubat sebelum mereka tertangkap, sebab jika taubatnya setelah tertangkap maka tidak dapat merubah sedikitpun ketentuan sangsi hukum terhadapnya. Hukum-hukum yang menjadi hak Allah menjadi gugur, yaitu potong tangan dan kaki sebab taubat. Akan tetapi yang berkaitan dengan hak adami berupa jiwa, harta tidak bias gugur begitu saja.



6
Firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah [5]:34





“kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu dapat menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah maha pengampun, maha penyayang” (Q.S Al-Maidah [5]:34)

Adapun had-had dan hukuman lain yang merupakan hak hamba, tidak dapat gugur dengan taubat sebelum tertangkap, oleh sebab itu terhadap penyamun/perampok/pembajak sesuai dengan berat ringanya perbuatan mereka, antara lain:
a.       Qishash, jika ia/mereka membunuh atau melukai korbanya
b.      Mengembalikan harta yang diambilnya, jika harta itu masih ada.
c.       Menangung kewajiban pengambilan harta yang dirusak atau habis dipergunakanya.
Hukum-hukum tersebut adalah hukuman yang berupa hak hamba, yaitu hak pihak yang menjadi korban. Oleh sebab itu mereka mempunyai hak untuk memaafkan atau membebaskan tanggungan harta, seperti oada tindak kejahatan selain menyamun. Jika ini dilakukan maka gugurlah hukuman tersebut dari diri pelaku kejahatan menyamun yang taubat sebelum tertangkap.

4.      Shiyal dan upaya membela diri
Secara bahasa shiyal artinya “serangan”, atau “serbuan”. Menurut istilah syara’ ialah serangan atau serbuan yang dilancarkan oleh seseorang terhadap jiwa, harta, keluarga dan kehormatan orang lain.
Sikap membela diri dari shiyal agar jiwa, harta keluarga, dan kehormatan sesorang atau masyarakat terselamatkan hkumnya wajib, baik disaat peristiwa terjadi maupun setelah peristiwa terjadi. Diingat kan oleh Allah dalam Q.S. Al-Baqarah [2] : 195



“dan janganlah kamu jatuhkan diri sendiri kedalam kebinasaan dengan tangan sendiri,”  (Q.S. Al-Baqarah [2]: 195)

Barang siapa membunuh seseorang atau hewan demi membela diri atau orang lain , harta, keluarga, kehormatan maka tidak berdosa baginya serta tidak terkena sanksi hukum apapun.


Bentuk pembelaaan diri dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.      Lari atau bersembunyi, lalu mencari pertolongan orang lain (bagi yang lemah)
2.      Menegur dengan kata-kata, berteriak minta tolong (bagi yang mempunyai sedikit keberaniaan)
3.      Melawan secara fisik, melukai penyerang (bagi yang kemampuannya seimbang)
4.      Membunuh pelaku penyerangan, jika di pandang jalan yang terbaik, tiada jalan lain kecuali jalan itu (bagi yang mempunyai kelebihan kekuatan di banding musuh)




BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN


Ø  Kesimpulan : Penjelasan mengenai pengertian dan hukum mencuri dan menyamun dalam Islam,                sehingga kaum muslim dapat memahami dan dapat menghindari perbuatan mencuri dan menyamun.




Ø   Saran           :
1.      Menghindari tindakan mencuri dan menyamun
2.      Memahami pengertian Mencuri dan menyamun dalam hukum islam
3.      Dapat melaksanakan hukum islam yang sebenarnya pada tindakan mencuri dan menyamun.





Daftar Pustaka


Departemen agama Jatim. Fiqih untuk Madrasah Aliyah kelas 2, 2005

Team musyawarah guru bina PAI Maadrasah Aliyah, Fiqih

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar